Sabtu, 17 Desember 2016

Hitam VS Putih

Sudah lama nggak nulis di blog ini, dan blog yang lain juga sih. Hmm..padahal dulu ngakunya kalau nggak nulis bisa gila. Mungkin kita bisa tarik kesimpulan dari sini. Mungkin saya sudah mendekati gila karena kan saya jadi jarang nulis. *hela nafas

Alasan saya nulis sekarang ini kebetulan karena saya baru terinfo tentang perang di Suriah. Yapp kebetulan cetak tebal karena barusan lihat link dari Facebook. Dan yapp sudah jarang nulis, update berita pun ketinggalan. Bagus masih ada Facebook

Tentang perang di Suriah, waktu lagi sering-seringnya foto Oman yang duduk di ambulans muncul di timeline Facebook, saya sempat baca artikel TIME. Menyentuh. Di artikel itu ada pernyataan bahwa terlepas dari hitam putihnya perang, yang jadi korban selalu yang tidak berdosa, anak-anak. Makanya kenapa foto Oman duduk diam, berlumuran darah, penuh debu jadi sangat viral adalah karena pesan yang disampaikannya kuat. Korban. Bukan korban-korbanan.

Barusan saja, saya lihat video yang merangkum apa yang terjadi di Suriah. Klik link di sini. Oke..saya baru ngeh ada apa selama ini di Suriah.

Saya jadi ingat, cara saya melihat perang betul-betul berubah pas saya berkesempatan membantu murid les saya ngerjain essay Sejarah IB Diplomanya. Waktu itu saya dikasih materi pelajaran dari gurunya, tentang Perang Dunia I, II, Perang Dingin, Komunisme, dan lain sebagainya. Dari situ saya kagum sama bahan-bahan itu. Asik bacanya karena info yang ada di situ nggak pernah saya temuin di buku pelajaran SMA saya dulu. Ada runutan peristiwa ini dan itu, juga pandangan dan latar belakang si A dan si B, dan sejauh mana keterlibatan pihak-pihak tersebut dalam perang. Saya sering lihat pertanyaan "How?" dan "Why" di materi itu. Sama sekali tak ada si pahlawan. Yang ada malah pertanyaan: Sejauh mana si A disalahkan dalam peristiwa itu? Seberapa efektifkah langkah yang diambil si B dalam peristiwa yang lain?

Jadi sedih kalau ingat saya dibiasakan melihat si Pahlawan dan si Musuh dalam perang. Sering terjebak pula sampai sekarang. Menilai yang satu Hitam dan yang satu Putih, perang demi kebenaran, melawan kejahatan. Padahal kalau manusia seringnya melihat perang sesimple  itu, yang ada perang nggak akan pernah selesai, karena yang satu pasti selalu merasa Putih, dan yang lainnya dianggap Hitam yang harus dibasmi. Dan korban bakal selalu berjatuhan.

Minggu, 06 September 2015

Jangan Ada Bullshit di Antara Kita

Ngomong melebih-lebihkan bisa jadi perkara yang sangat biasa di persoalan mempromosikan diri. Orang juga sering salah sangka menyamakan percaya diri dengan melebih-lebihkan. Sepertinya, saya termasuk di golongan orang salah sangka itu.

Bulan Juli kemarin itu pertama kali saya bekerja yang 'beneran', dalam artian, ada kontrak yang jelas, ada interview, dan ada skill yang dinilai. Karena paham awal saya kita harus melebih-lebihkan kemampuan diri kita waktu interview, jadilah bullshit-bullshit keluar dari mulut saya. Saya bilang mampu di segala hal. Saya mengiyakan semuanya. Mampusnya, saya jadi terjebak melakukan hal yang saya sama sekali nggak bisa, yang parahnya sudah saya iyakan di awal.

Di pemahaman saya yang lugu waktu interview bulan Juli kemarin, saya pikir yang namanya perusahaan/tempat kerja pasti selalu kasih pelajaran awal. Yang saya perlukan cuma kemampuan adaptasi yang baik. Tapi apa daya, pelajaran awal itu nggak pernah ada, dan saya harus langsung 'terjun'. Alhasil, bulan-bulan ini jadi yang terberat buat saya. Hikss. Semuanya karena terjebak bullshit yang saya bilang sendiri di awal.

Bullshit pertama yang saya bilang waktu interview adalah persoalan sidang skripsi yang waktu itu belum saya tempuh. Saya sudah utarakan waktu interview, dan saya juga bilang saya mampu ber-multitasking bekerja sambil selesaikan skripsi. Kenyataannya, saya kewalahan setengah mati. Skripsi nggak maksimal, kerjaan pun terlantar.

Bullshit kedua adalah soal job desc. Job desc saya nggak dijelaskan detil di awal, tapi saya bilang mampu semata-mata karena saya pengin banget kerjaan ini. Dan ketika hari kerja datang, saya dibuat bingung setengah mati sama kerjaan saya. Ini bukan perihal kemampuan adaptasi, tapi ini perihal job desc yang nggak sesuai bidang. Ibaratnya, saya anak IPS sejati, tapi saya disuruh belajar biologi, struktur ekosistem, atmosfer, litosfer, dll, bersamaan dengan dikasihnya segudang pekerjaan lain-lain. Bukan disuruh belajar juga deng namanya. Kesempatan belajarnya saja jadi nggak ada.

Halaaaahhh ribet banget kehidupan.

Ditambah lagi, saya baru tahu kalau orang lain juga suka berbullshit. Bullshit yang paling sering saya dengar, "nanti tanya saja sama saya". Kalimatnya sangat menjanjikan karena saya jadi optimis menghadapi segala rintangan, hambatan dalam kerjaan. Kenyataannya, begitu saya datang, yang ada cuma kalimat, "bisa cari di google". LHOOOO????!!!!!!!

Dan semakin ribet lah kehidupan karena google pun susah banget kasih solusi.

"Petiklah hikmahnya". Baiklah, mulai sekarang saya sadar bullshit itu tidak akan membantu. Percaya diri nggak sama dengan bullshit. Dan alangkah baiknya kalau jangan ada bullshit di antara kita, wahai yang suruh saya google. Saya jadi kerepotan sendiri, dan saya rasa saya bisa bikin repot seluruh isi kantor kalau begini.

Tapi pengalaman ada bukan cuma buat dipetik hikmah. Ada langkah yang harus diambil, toh?! Situasi saya sekarang ibarat lagi ada di tengah-tengah labirin. Satu-satunya jalan keluar yang kepikiran, hancurkan saja tembok labirinnya. Gimana, yaa..

Senin, 20 Juli 2015

LGBT

Karena baru kemarin-kemarin ini pernikahan homoseksual dilegalkan di Amerika Serikat, orang-orang Indonesia ikut ramai berkoar soal LGBT. Saya sih ikutan share link-link yang membahagiakan tentang pasangan yang akhirnya bisa menyandang status menikah. Tapi ada juga yang ramai-ramai share link-link yang melaknat orang-orang berbahagia itu. Bukan ada juga, tapi BANYAK.

Mereka berkeinginan agar kaum itu (Amerika) binasa karena azab. Saya juga jadi ingat tentang petisi menentang festival Yulin dimana harusnya orang-orang fokus pada keselamatan anjing-anjingnya, bukan malah berharap bisa membinasakan orang-orang Cina yang ‘barbar’. Rasanya berharap suatu kaum binasa itu kejam.  Itu semacam intensi membunuh yang mengatasnamakan kebenaran.

Tentang LGBT, saya bingung sama sikap orang-orang di sekitar saya, di Indonesia pada umumnya. Di media sosial, orang-orang heboh mengumbar-umbar cercaan, hinaan, makian ke pendukung dan orang-orang LGBT. Untungnya (untung), saya ga pernah lihat perlakuan sefrontal itu ke orang-orang LGBT di depan mata saya (tapi saya ga menutup mata sama tindakan bully yang sering terjadi ya). Frontal karena seolah mereka-mereka itu rasanya mau memukuli (mungkin sampai membunuh) orang-orang LGBT.

Saya kenal seorang yang berkoar tentang laknatnya LGBT di media sosial, namanya A. Orang ini pun kenal dengan seorang transgender, namanya B. Karena si B ini punya prestasi dan talenta yang luar biasa, orang-orang di dekatnya ga pernah menunjukkan tanda-tanda menghina, begitu juga si A. Saya memang ga tau dalam hatinya si A, tapi dari luar terlihatnya si A respect terhadap B. Saya kaget saja lihat media sosialnya dimana ada link-link dengan opini kejam terhadap LGBT. Ga tahukah si A, dengan opininya itu dia juga menyerang si B?

Saya pun sering dengar dalam obrolan orang-orang, yang serupa begini:

“Eh itu si C? Si C ganteng/cantik ya?”
“Eh dia mah gay/lesbian.”
“Oh ya?!” *kaget (dan mgkn sedikit kecewa)*
lalu selesai.


Mungkin saat itu mereka menghakimi dalam hati, tapi mereka ga langsung benci sama si C dengan intensi mau membunuh, kan. Lalu kenapa? Kenapa intensi membunuh itu datang begitu besarnya di media sosial?!

Kamis, 29 Januari 2015

Kata Menakutkan

Kemarin, ceritanya saya lagi berusaha meracuni Nurul Vocaloid. Saya kasih unjuk dia lagu Night Series dari Hitoshizuku x Yama∆ yang bikin saya pusing karena nggak ngerti maksudnya. Terus kita jadi diskusi soal meaning sebenarnya sampai malam. Ternyata maksudnya sederhana, atau mungkin kita berdua salah.

Yaa, gara-gara itu, hari ini saya melamun sendiri.

Kata-kata apa yang paling menakutkan?
Saya pikir jawabannya 'death' atau mungkin 'end'.
Tapi setelah dipikir-pikir lagi, mungkin kata yang paling menakutkan itu 'again', 'always', 'forever'.

Minggu, 25 Januari 2015

Care

Hari ini saya mau cerita tentang pengalaman saya waktu jadi MABA, berhubung ini harus jadi tahun terakhir (yang sangat telat) saya berstatus mahasiswa. *tarik nafas dalam-dalam*

Saya ingat betul sama orang-orang yang 'care' sama saya sepanjang saya kuliah merantau di kecamatan orang . Dulu waktu saya masih MABA, banyak orang ‘care’ masuk ke dalam kehidupan saya.

Yang pertama, dia rela minjemin alat elektronik paling berguna di dunia anak kosan: rice cooker!!! Kedatangan benda ini nolong saya banget. Nolong supaya jatah uang bulanan nggak habis cuma buat persoalan ngenyangin perut. Tahu sendiri betapa nasi sama abon (ambil dari rumah) sangat membantu di saat dompet lagi tipis. Dalam hati, saya bersyukur banget saya pernah kenal orang ‘care’ yang satu itu. Semacam dibantu dalam proses adaptasi dari anak rumahan jadi anak kosan.

Selang beberapa bulan, saya ketemu lagi sama orang yang ‘care’.  Dia yang bikin saya merasa disambut di lingkungan fakultas. Dari hal-hal sepele semacam diajak pulang bareng, sampai diajak ikut kepanitiaan bareng. Saya jadi merasa penting. Dan jadi penting itu spesial banget, kan, buat MABA.  Gila! Saya jadi MABA eksis lhooo.

Orang yang ‘care’ yang terakhir sampai bikin saya meleleh-leleh. Saya itu orang yang dingin (katanya). Tapi kalau saya di’care’-in, saya juga pasti meleleh. Bayangin saja, saya lagi sakit ada yang datang jenguk saya, bawain makanan yang fresh from the kompor sama sari kurma. Mama saya saja juga nggak begitu amat. Mama cuma telpon dan suruh minum panadol, yang dalam skala saya itu sudah care banget.

Awalnya memang saya sempat merasa geli. Karena pada dasarnya saya adalah orang yang cuek dan sering dicuekin. Lama-lama muncul perasaan berbunga-bunga dikasih perhatian yang sebegitu besarnya. 

Namun hidup tak selalu indah. Atau indah tak selalu abadi.

Singkatnya, selanjutnya saya merasa kalau ‘care’ yang saya terima adalah bentuk pamrih. Masyarakat kampus cenderung membentuk golongan-golongan. Dan kalau golongan itu adalah golongan yang merasa paling benar, golongan itu bakal adain rekruitmen besar-besaran. Rekruitmen yang dibuat seolah-olah untuk menyelamatkan umat manusia dari kehancuran, yang toh esensinya cuma kayak saling adu benar dan adu banyak-banyakan jumlah.

Siapa lagi target empuk rekruitmen mereka kalau bukan MABA?! MABA polos. MABA haus.

Orang ‘care’ yang pertama minta balik rice cookernya setelah tahu saya gabung ke yang lain. Sikapnya juga jadi super jutek ke saya. Orang ‘care’ yang kedua hilang kontak, lalu tahu-tahu sms saya mengampanyekan partainya supaya dipilih pas pemilu. Saya langsung ilfeel. Orang ‘care’ yang ketiga sih masih cukup ‘care’ sama saya. Tapi ada perasaan seolah dikhianati, ketika tahu ada sistem yang nyuruh dia supaya baik ke saya. Jadi…jadi…sup yang fresh from the kompor kemarin bukan dari hati…tapi cuma karena saya targetnya?! Ahh~

Semenjak saya ngeh sama tujuan-tujuan terselubung itu, saya jadi serba hati-hati dan waspada kalau tiba-tiba ada orang yang mendekat ke saya. Makanya, saya suka sinis nanggepin mereka. Terbukti sih, terakhir saya di’care’in sama orang yang ternyata punya tujuan rekruit saya jadi agen asuransi.

Sama saja, orang yang katanya mau jadi juru selamat sama orang asuransi itu. Orang asuransi juga mau menyelamatkan saya, kok. Dia ngajak saya cari duit, tapi yang paling penting target downline dia tercapai dulu.

Care yang nggak pakai tanda kutip itu saya dapat dari orang yang justru nggak nunjukin perhatian berlebih, orang yang nggak secara creepy mendekati saya. Ada yang dulu saya bilang ‘penyumbat’ justru nyatanya orang yang care betulan sama saya.

Moral of the story: Harusnya saya jangan termakan kemasannya, karena sekalinya itu untuk kepentingan dan bukan dari hati, semuanya jadi sama saja, mau itu agen penyelamat atau agen asuransi. Baiknya pasti ada maunya. Maunya itu juga pasti terkait target. Memang ada orang yang mau jadi target buruan orang?!

Kamis, 22 Januari 2015

When Aoba Meets Levi


Aoba: Oh my! Who is he? He's so kakkoiiii~. I think I wanna approach him.


Aoba: "E..Excuse me."


Levi: "What?"
Aoba: "I've been watching you since earlier. You're so cool."


Aoba: "M..May I touch your face?"


Levi: "EWWW DON'T TOUCH ME, YOU PEASANT!"


Levi: "You wanna die?!"


Levi: "Tch! Now he's died."

-The End-

Perhaps..this is Aoba's alternative bad route, when he chooses Levi. This route lasts only for 5 minutes, and has no good ending. Poor Aoba~

Senin, 29 Desember 2014

JudgMental


anggielian | 20++++ | Gemini | O | INTJ


Itu profil singkat saya. Tapi sumpah! Saya ga majang kayak gitu di Tumblr. Sesungguhnya, saya geli kalau setiap nemu user Tumblr atau Instagram yang majang-majang hasil tes kepribadian Myers-Briggsnya. Apalagi kalau dia INTJ. Kesannya bangga banget lo jadi INTJ

Tapi yaa, pertama kalinya ikutan kuis itu di internet, saya kaget lihat hasilnya, gue banget gitu. Emang bangga sih dibilang INTJ. Ya, soalnya kan dibilang mastermind. Rasanya pengen siap-siap jadi villain of all time.

Seiring waktu berlalu, kuis itu makin tenar di internet. Yang tadinya INTJ dibilang spesies langka tiba-tiba jadi menjamur ada dimana-mana. Mungkin 80% user tumblr juga INTJ saking seringnya saya lihat profil macam di atas itu. Saya jadi skeptis sama 'orang-orang INTJ' itu. Akhirnya berkali-kali saya ikut kuisnya dari berbagai situs. Semacam untuk membuktikan sayalah INTJ sejati.

Hasilnya, sih, sama-sama aja: INTJ, dengan skor di I dan J yang tinggi. Nah, huruf J ini yang mau saya bahas.

Saya sadar betul paragraf 1-3 di atas adalah implikasi dari J saya. Kayak yang saya bilang tadi, pertama kali lihat hasil tesnya yang INTJ itu, saya kaget karena tepat banget. Terus saya cekakak cekikik bacanya, kebayang perlakuan saya ke orang-orang. Makanya di otak saya INTJ tuh berasa villain banget. Villain yang berbangga hati dan punya semacam god complex begitu lah.

Ga tahu, ya, orang-orang lain yang tipenya J juga, tapi saya suka banget mengekspresikan judgement saya, kayak mandang sinis selama sejam ke mbak-mbak yang haus akan kursi di Transjakarta, atau mandang sinis dari bangku belakang angkot tembus ke kaca depan orang yang naik mobil sendirian pas rush hour

Parahnya, saya bisa dibilang anti banget sama yang namanya kepercayaan, mitos, tradisi. Sampai pas waktu ke makam, saya sengaja kantongin bunga kamboja banyak-banyak pas dibilang Mama saya kalau ga boleh bawa sesuatu dari makam. BADASS

Ya selain itu banyak juga sih tingkah saya yang anti 'hal yang ga masuk akal' yang kalau dibeberin di sini mungkin bisa memecah belah umat. 

Tapi semakin ke sini, alias semakin tua saya, saya jadi ngerasa tingkah saya konyol. Saya banyak nonton film, anime, baca komik, sama main game belakangan ini (ketahuan nganggur). Itu jadi alasan saya nulis post ini. Saya habis maraton nonton anime dan selesai dengar Drama CD game porno yang ceritanya daleeeeemm. Kesimpulannya, betapa bahagianya kalau banyak orang yang hidup di dunia ini punya pikiran yang sama kayak karakter-karakter fiksi itu. Sebagian, sih. Sebagian yang lain terlalu kacau jadi baiknya jangan ada yang tiru.

Omong-omong soal Drama CD game porno yang baru tadi saya dengerin. Iya game porno. Ga salah denger kok. Saya emang kecanduan game porno homoseksual. Di situ, karakter utamanya yang namanya Aoba punya pacar yang namanya Mink. Ini pasangan cowok x cowok selalu bisa buat saya mesem-mesem (baca: terangsang).

Mink itu orang suku asli Amerika yang pastinya punya banyak tradisi-tradisi, dan dia sangat sangat relijius sekali, percaya leluhur, roh, dan hal-hal 'gaib' lainnya. Awalnya, saya nikmatin ceritanya yang manis dan buat saya mesem-mesem tadi, tanpa saya sadar kalau orang-orang macam Mink juga ada di sekitar saya. Saya mati-matian simpati sama karakter Mink tanpa saya sadar kalau di dunia nyata, ini karakter nomor satu yang saya hindari.

Si karakter utama, Aoba, dari Jepang, dan sepengamatan saya dia punya pemikiran yang lebih modern. Tapi, coba tebak apa reaksinya sama sikap Mink yang super relijius itu? Ya, dia terima itu. Malahan selalu ingin tahu lebih kayak apa sih yang ada di tradisi sukunya Mink. Coba saya yang ada di posisi Aoba. Pas Mink ngomong ke saya 'itu pasti leluhur saya yang kasih peringatan lewat mimpi kamu', saya bakal kasih pandangan sinis skeptis apatis saya ke Mink, mana bisa orang mati ngomong ke saya. Lalu terjadilah perang dunia alih-alih adegan seks penuh cinta. 

Banyak orang-orang di sekitar saya yang sekadar cuma mau sampein pendapatnya yang ga berbahaya. Tapi kalau saya terus tanggapi dengan tutup kuping, isi pikirannya ga akan sampai ke saya. Banyak orang-orang yang mau meyakini sesuatu yang dia pikir baik buat dia dan dunia. Tapi kalau saya terus tanggapi dengan pandangan 'wtf?!', orangnya bisa tersinggung.

Kadang jadi judgmental bagus juga sih, karena kesannya saya jadi semacam orang berpendirian teguh dan tegas. Tsah! Tapi kalau orang-orang judgmentalnya terlalu banyak dibanding orang-orang yang mau dengar, apalagi kebanyakan yang kombinasi judgemental sama bodoh, bisa-bisa kiamat dunia karena orang-orang saling perang.

Oh, ya ampun, game porno mengubah hidup saya.

.

P.S.: Ini blog baru saya yang khusus buat tulisan (baca About). Jangan ketawa, sih, lihat judul blognya.