Hari ini saya mau cerita tentang pengalaman saya waktu jadi
MABA, berhubung ini harus jadi tahun terakhir (yang sangat telat) saya
berstatus mahasiswa. *tarik nafas dalam-dalam*
Saya ingat betul sama orang-orang yang 'care' sama saya
sepanjang saya kuliah merantau di kecamatan orang . Dulu waktu saya masih MABA,
banyak orang ‘care’ masuk ke dalam kehidupan saya.
Yang pertama, dia rela minjemin alat elektronik paling
berguna di dunia anak kosan: rice cooker!!! Kedatangan benda ini nolong saya
banget. Nolong supaya jatah uang bulanan nggak habis cuma buat persoalan
ngenyangin perut. Tahu sendiri betapa nasi sama abon (ambil dari rumah) sangat
membantu di saat dompet lagi tipis. Dalam hati, saya bersyukur banget saya
pernah kenal orang ‘care’ yang satu itu. Semacam dibantu dalam proses adaptasi dari
anak rumahan jadi anak kosan.
Selang beberapa bulan, saya ketemu lagi sama orang yang ‘care’.
Dia yang bikin saya merasa disambut di
lingkungan fakultas. Dari hal-hal sepele semacam diajak pulang bareng, sampai
diajak ikut kepanitiaan bareng. Saya jadi merasa penting. Dan jadi penting itu
spesial banget, kan, buat MABA. Gila!
Saya jadi MABA eksis lhooo.
Orang yang ‘care’ yang terakhir sampai bikin saya meleleh-leleh.
Saya itu orang yang dingin (katanya). Tapi kalau saya di’care’-in, saya juga
pasti meleleh. Bayangin saja, saya lagi sakit ada yang datang jenguk saya,
bawain makanan yang fresh from the kompor
sama sari kurma. Mama saya saja juga nggak begitu amat. Mama cuma telpon dan
suruh minum panadol, yang dalam skala saya itu sudah care banget.
Awalnya memang saya sempat merasa geli. Karena pada dasarnya
saya adalah orang yang cuek dan sering dicuekin. Lama-lama muncul perasaan berbunga-bunga
dikasih perhatian yang sebegitu besarnya.
Namun hidup tak selalu indah. Atau indah tak selalu abadi.
Singkatnya, selanjutnya saya merasa kalau ‘care’ yang saya
terima adalah bentuk pamrih. Masyarakat kampus cenderung membentuk
golongan-golongan. Dan kalau golongan itu adalah golongan yang merasa paling
benar, golongan itu bakal adain rekruitmen besar-besaran. Rekruitmen yang
dibuat seolah-olah untuk menyelamatkan umat manusia dari kehancuran, yang toh
esensinya cuma kayak saling adu benar dan adu banyak-banyakan jumlah.
Siapa lagi target empuk rekruitmen mereka kalau bukan MABA?!
MABA polos. MABA haus.
Orang ‘care’ yang pertama minta balik rice cookernya setelah
tahu saya gabung ke yang lain. Sikapnya juga jadi super jutek ke saya. Orang
‘care’ yang kedua hilang kontak, lalu tahu-tahu sms saya mengampanyekan
partainya supaya dipilih pas pemilu. Saya langsung ilfeel. Orang ‘care’ yang ketiga sih masih cukup ‘care’ sama saya.
Tapi ada perasaan seolah dikhianati, ketika tahu ada sistem yang nyuruh dia
supaya baik ke saya. Jadi…jadi…sup yang fresh
from the kompor kemarin bukan dari hati…tapi cuma karena saya targetnya?!
Ahh~
Semenjak saya ngeh sama tujuan-tujuan terselubung itu, saya
jadi serba hati-hati dan waspada kalau tiba-tiba ada orang yang mendekat ke
saya. Makanya, saya suka sinis nanggepin mereka. Terbukti sih, terakhir saya
di’care’in sama orang yang ternyata punya tujuan rekruit saya jadi agen
asuransi.
Sama saja, orang yang katanya mau jadi juru selamat sama
orang asuransi itu. Orang asuransi juga mau menyelamatkan saya, kok. Dia ngajak
saya cari duit, tapi yang paling penting target downline dia tercapai dulu.
Care yang nggak pakai tanda kutip itu saya dapat dari orang
yang justru nggak nunjukin perhatian berlebih, orang yang nggak secara creepy mendekati saya. Ada yang dulu
saya bilang ‘penyumbat’ justru nyatanya orang yang care betulan sama saya.
Moral of the story:
Harusnya saya jangan termakan kemasannya, karena sekalinya itu untuk
kepentingan dan bukan dari hati, semuanya jadi sama saja, mau itu agen
penyelamat atau agen asuransi. Baiknya pasti ada maunya. Maunya itu juga pasti
terkait target. Memang ada orang yang mau jadi target buruan orang?!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar