Kamis, 29 Januari 2015

Kata Menakutkan

Kemarin, ceritanya saya lagi berusaha meracuni Nurul Vocaloid. Saya kasih unjuk dia lagu Night Series dari Hitoshizuku x Yama∆ yang bikin saya pusing karena nggak ngerti maksudnya. Terus kita jadi diskusi soal meaning sebenarnya sampai malam. Ternyata maksudnya sederhana, atau mungkin kita berdua salah.

Yaa, gara-gara itu, hari ini saya melamun sendiri.

Kata-kata apa yang paling menakutkan?
Saya pikir jawabannya 'death' atau mungkin 'end'.
Tapi setelah dipikir-pikir lagi, mungkin kata yang paling menakutkan itu 'again', 'always', 'forever'.

Minggu, 25 Januari 2015

Care

Hari ini saya mau cerita tentang pengalaman saya waktu jadi MABA, berhubung ini harus jadi tahun terakhir (yang sangat telat) saya berstatus mahasiswa. *tarik nafas dalam-dalam*

Saya ingat betul sama orang-orang yang 'care' sama saya sepanjang saya kuliah merantau di kecamatan orang . Dulu waktu saya masih MABA, banyak orang ‘care’ masuk ke dalam kehidupan saya.

Yang pertama, dia rela minjemin alat elektronik paling berguna di dunia anak kosan: rice cooker!!! Kedatangan benda ini nolong saya banget. Nolong supaya jatah uang bulanan nggak habis cuma buat persoalan ngenyangin perut. Tahu sendiri betapa nasi sama abon (ambil dari rumah) sangat membantu di saat dompet lagi tipis. Dalam hati, saya bersyukur banget saya pernah kenal orang ‘care’ yang satu itu. Semacam dibantu dalam proses adaptasi dari anak rumahan jadi anak kosan.

Selang beberapa bulan, saya ketemu lagi sama orang yang ‘care’.  Dia yang bikin saya merasa disambut di lingkungan fakultas. Dari hal-hal sepele semacam diajak pulang bareng, sampai diajak ikut kepanitiaan bareng. Saya jadi merasa penting. Dan jadi penting itu spesial banget, kan, buat MABA.  Gila! Saya jadi MABA eksis lhooo.

Orang yang ‘care’ yang terakhir sampai bikin saya meleleh-leleh. Saya itu orang yang dingin (katanya). Tapi kalau saya di’care’-in, saya juga pasti meleleh. Bayangin saja, saya lagi sakit ada yang datang jenguk saya, bawain makanan yang fresh from the kompor sama sari kurma. Mama saya saja juga nggak begitu amat. Mama cuma telpon dan suruh minum panadol, yang dalam skala saya itu sudah care banget.

Awalnya memang saya sempat merasa geli. Karena pada dasarnya saya adalah orang yang cuek dan sering dicuekin. Lama-lama muncul perasaan berbunga-bunga dikasih perhatian yang sebegitu besarnya. 

Namun hidup tak selalu indah. Atau indah tak selalu abadi.

Singkatnya, selanjutnya saya merasa kalau ‘care’ yang saya terima adalah bentuk pamrih. Masyarakat kampus cenderung membentuk golongan-golongan. Dan kalau golongan itu adalah golongan yang merasa paling benar, golongan itu bakal adain rekruitmen besar-besaran. Rekruitmen yang dibuat seolah-olah untuk menyelamatkan umat manusia dari kehancuran, yang toh esensinya cuma kayak saling adu benar dan adu banyak-banyakan jumlah.

Siapa lagi target empuk rekruitmen mereka kalau bukan MABA?! MABA polos. MABA haus.

Orang ‘care’ yang pertama minta balik rice cookernya setelah tahu saya gabung ke yang lain. Sikapnya juga jadi super jutek ke saya. Orang ‘care’ yang kedua hilang kontak, lalu tahu-tahu sms saya mengampanyekan partainya supaya dipilih pas pemilu. Saya langsung ilfeel. Orang ‘care’ yang ketiga sih masih cukup ‘care’ sama saya. Tapi ada perasaan seolah dikhianati, ketika tahu ada sistem yang nyuruh dia supaya baik ke saya. Jadi…jadi…sup yang fresh from the kompor kemarin bukan dari hati…tapi cuma karena saya targetnya?! Ahh~

Semenjak saya ngeh sama tujuan-tujuan terselubung itu, saya jadi serba hati-hati dan waspada kalau tiba-tiba ada orang yang mendekat ke saya. Makanya, saya suka sinis nanggepin mereka. Terbukti sih, terakhir saya di’care’in sama orang yang ternyata punya tujuan rekruit saya jadi agen asuransi.

Sama saja, orang yang katanya mau jadi juru selamat sama orang asuransi itu. Orang asuransi juga mau menyelamatkan saya, kok. Dia ngajak saya cari duit, tapi yang paling penting target downline dia tercapai dulu.

Care yang nggak pakai tanda kutip itu saya dapat dari orang yang justru nggak nunjukin perhatian berlebih, orang yang nggak secara creepy mendekati saya. Ada yang dulu saya bilang ‘penyumbat’ justru nyatanya orang yang care betulan sama saya.

Moral of the story: Harusnya saya jangan termakan kemasannya, karena sekalinya itu untuk kepentingan dan bukan dari hati, semuanya jadi sama saja, mau itu agen penyelamat atau agen asuransi. Baiknya pasti ada maunya. Maunya itu juga pasti terkait target. Memang ada orang yang mau jadi target buruan orang?!

Kamis, 22 Januari 2015

When Aoba Meets Levi


Aoba: Oh my! Who is he? He's so kakkoiiii~. I think I wanna approach him.


Aoba: "E..Excuse me."


Levi: "What?"
Aoba: "I've been watching you since earlier. You're so cool."


Aoba: "M..May I touch your face?"


Levi: "EWWW DON'T TOUCH ME, YOU PEASANT!"


Levi: "You wanna die?!"


Levi: "Tch! Now he's died."

-The End-

Perhaps..this is Aoba's alternative bad route, when he chooses Levi. This route lasts only for 5 minutes, and has no good ending. Poor Aoba~