Ngomong melebih-lebihkan bisa jadi perkara yang sangat biasa di persoalan mempromosikan diri. Orang juga sering salah sangka menyamakan percaya diri dengan melebih-lebihkan. Sepertinya, saya termasuk di golongan orang salah sangka itu.
Bulan Juli kemarin itu pertama kali saya bekerja yang 'beneran', dalam artian, ada kontrak yang jelas, ada interview, dan ada skill yang dinilai. Karena paham awal saya kita harus melebih-lebihkan kemampuan diri kita waktu interview, jadilah bullshit-bullshit keluar dari mulut saya. Saya bilang mampu di segala hal. Saya mengiyakan semuanya. Mampusnya, saya jadi terjebak melakukan hal yang saya sama sekali nggak bisa, yang parahnya sudah saya iyakan di awal.
Di pemahaman saya yang lugu waktu interview bulan Juli kemarin, saya pikir yang namanya perusahaan/tempat kerja pasti selalu kasih pelajaran awal. Yang saya perlukan cuma kemampuan adaptasi yang baik. Tapi apa daya, pelajaran awal itu nggak pernah ada, dan saya harus langsung 'terjun'. Alhasil, bulan-bulan ini jadi yang terberat buat saya. Hikss. Semuanya karena terjebak bullshit yang saya bilang sendiri di awal.
Bullshit pertama yang saya bilang waktu interview adalah persoalan sidang skripsi yang waktu itu belum saya tempuh. Saya sudah utarakan waktu interview, dan saya juga bilang saya mampu ber-multitasking bekerja sambil selesaikan skripsi. Kenyataannya, saya kewalahan setengah mati. Skripsi nggak maksimal, kerjaan pun terlantar.
Bullshit kedua adalah soal job desc. Job desc saya nggak dijelaskan detil di awal, tapi saya bilang mampu semata-mata karena saya pengin banget kerjaan ini. Dan ketika hari kerja datang, saya dibuat bingung setengah mati sama kerjaan saya. Ini bukan perihal kemampuan adaptasi, tapi ini perihal job desc yang nggak sesuai bidang. Ibaratnya, saya anak IPS sejati, tapi saya disuruh belajar biologi, struktur ekosistem, atmosfer, litosfer, dll, bersamaan dengan dikasihnya segudang pekerjaan lain-lain. Bukan disuruh belajar juga deng namanya. Kesempatan belajarnya saja jadi nggak ada.
Halaaaahhh ribet banget kehidupan.
Ditambah lagi, saya baru tahu kalau orang lain juga suka berbullshit. Bullshit yang paling sering saya dengar, "nanti tanya saja sama saya". Kalimatnya sangat menjanjikan karena saya jadi optimis menghadapi segala rintangan, hambatan dalam kerjaan. Kenyataannya, begitu saya datang, yang ada cuma kalimat, "bisa cari di google". LHOOOO????!!!!!!!
Dan semakin ribet lah kehidupan karena google pun susah banget kasih solusi.
"Petiklah hikmahnya". Baiklah, mulai sekarang saya sadar bullshit itu tidak akan membantu. Percaya diri nggak sama dengan bullshit. Dan alangkah baiknya kalau jangan ada bullshit di antara kita, wahai yang suruh saya google. Saya jadi kerepotan sendiri, dan saya rasa saya bisa bikin repot seluruh isi kantor kalau begini.
Tapi pengalaman ada bukan cuma buat dipetik hikmah. Ada langkah yang harus diambil, toh?! Situasi saya sekarang ibarat lagi ada di tengah-tengah labirin. Satu-satunya jalan keluar yang kepikiran, hancurkan saja tembok labirinnya. Gimana, yaa..
Minggu, 06 September 2015
Senin, 20 Juli 2015
LGBT
Karena baru kemarin-kemarin ini pernikahan homoseksual
dilegalkan di Amerika Serikat, orang-orang Indonesia ikut ramai berkoar soal
LGBT. Saya sih ikutan share link-link
yang membahagiakan tentang pasangan yang akhirnya bisa menyandang status
menikah. Tapi ada juga yang ramai-ramai share
link-link yang melaknat orang-orang berbahagia itu. Bukan ada juga, tapi
BANYAK.
Mereka berkeinginan agar kaum itu (Amerika) binasa karena
azab. Saya juga jadi ingat tentang petisi menentang festival Yulin dimana
harusnya orang-orang fokus pada keselamatan anjing-anjingnya, bukan malah
berharap bisa membinasakan orang-orang Cina yang ‘barbar’. Rasanya berharap
suatu kaum binasa itu kejam. Itu semacam
intensi membunuh yang mengatasnamakan kebenaran.
Tentang LGBT, saya bingung sama sikap orang-orang di sekitar
saya, di Indonesia pada umumnya. Di media sosial, orang-orang heboh
mengumbar-umbar cercaan, hinaan, makian ke pendukung dan orang-orang LGBT.
Untungnya (untung), saya ga pernah lihat perlakuan sefrontal itu ke orang-orang
LGBT di depan mata saya (tapi saya ga menutup mata sama tindakan bully yang sering terjadi ya). Frontal
karena seolah mereka-mereka itu rasanya mau memukuli (mungkin sampai membunuh) orang-orang
LGBT.
Saya kenal seorang yang berkoar tentang laknatnya LGBT di
media sosial, namanya A. Orang ini pun kenal dengan seorang transgender,
namanya B. Karena si B ini punya prestasi dan talenta yang luar biasa,
orang-orang di dekatnya ga pernah menunjukkan tanda-tanda menghina, begitu juga
si A. Saya memang ga tau dalam hatinya si A, tapi dari luar terlihatnya si A respect terhadap B. Saya kaget saja
lihat media sosialnya dimana ada link-link dengan opini kejam terhadap LGBT. Ga
tahukah si A, dengan opininya itu dia juga menyerang si B?
Saya pun sering dengar dalam obrolan orang-orang, yang
serupa begini:
“Eh itu si C? Si C ganteng/cantik ya?”
“Eh dia mah gay/lesbian.”
“Oh ya?!” *kaget (dan mgkn sedikit kecewa)*
lalu selesai.
Mungkin saat itu mereka menghakimi dalam hati, tapi mereka
ga langsung benci sama si C dengan intensi mau membunuh, kan. Lalu kenapa?
Kenapa intensi membunuh itu datang begitu besarnya di media sosial?!
Kamis, 29 Januari 2015
Kata Menakutkan
Kemarin, ceritanya saya lagi berusaha meracuni Nurul Vocaloid. Saya kasih unjuk dia lagu Night Series dari Hitoshizuku x Yama∆ yang bikin saya pusing karena nggak ngerti maksudnya. Terus kita jadi diskusi soal meaning sebenarnya sampai malam. Ternyata maksudnya sederhana, atau mungkin kita berdua salah.
Yaa, gara-gara itu, hari ini saya melamun sendiri.
Kata-kata apa yang paling menakutkan?
Saya pikir jawabannya 'death' atau mungkin 'end'.
Tapi setelah dipikir-pikir lagi, mungkin kata yang paling menakutkan itu 'again', 'always', 'forever'.
Minggu, 25 Januari 2015
Care
Hari ini saya mau cerita tentang pengalaman saya waktu jadi
MABA, berhubung ini harus jadi tahun terakhir (yang sangat telat) saya
berstatus mahasiswa. *tarik nafas dalam-dalam*
Saya ingat betul sama orang-orang yang 'care' sama saya
sepanjang saya kuliah merantau di kecamatan orang . Dulu waktu saya masih MABA,
banyak orang ‘care’ masuk ke dalam kehidupan saya.
Yang pertama, dia rela minjemin alat elektronik paling
berguna di dunia anak kosan: rice cooker!!! Kedatangan benda ini nolong saya
banget. Nolong supaya jatah uang bulanan nggak habis cuma buat persoalan
ngenyangin perut. Tahu sendiri betapa nasi sama abon (ambil dari rumah) sangat
membantu di saat dompet lagi tipis. Dalam hati, saya bersyukur banget saya
pernah kenal orang ‘care’ yang satu itu. Semacam dibantu dalam proses adaptasi dari
anak rumahan jadi anak kosan.
Selang beberapa bulan, saya ketemu lagi sama orang yang ‘care’.
Dia yang bikin saya merasa disambut di
lingkungan fakultas. Dari hal-hal sepele semacam diajak pulang bareng, sampai
diajak ikut kepanitiaan bareng. Saya jadi merasa penting. Dan jadi penting itu
spesial banget, kan, buat MABA. Gila!
Saya jadi MABA eksis lhooo.
Orang yang ‘care’ yang terakhir sampai bikin saya meleleh-leleh.
Saya itu orang yang dingin (katanya). Tapi kalau saya di’care’-in, saya juga
pasti meleleh. Bayangin saja, saya lagi sakit ada yang datang jenguk saya,
bawain makanan yang fresh from the kompor
sama sari kurma. Mama saya saja juga nggak begitu amat. Mama cuma telpon dan
suruh minum panadol, yang dalam skala saya itu sudah care banget.
Awalnya memang saya sempat merasa geli. Karena pada dasarnya
saya adalah orang yang cuek dan sering dicuekin. Lama-lama muncul perasaan berbunga-bunga
dikasih perhatian yang sebegitu besarnya.
Namun hidup tak selalu indah. Atau indah tak selalu abadi.
Singkatnya, selanjutnya saya merasa kalau ‘care’ yang saya
terima adalah bentuk pamrih. Masyarakat kampus cenderung membentuk
golongan-golongan. Dan kalau golongan itu adalah golongan yang merasa paling
benar, golongan itu bakal adain rekruitmen besar-besaran. Rekruitmen yang
dibuat seolah-olah untuk menyelamatkan umat manusia dari kehancuran, yang toh
esensinya cuma kayak saling adu benar dan adu banyak-banyakan jumlah.
Siapa lagi target empuk rekruitmen mereka kalau bukan MABA?!
MABA polos. MABA haus.
Orang ‘care’ yang pertama minta balik rice cookernya setelah
tahu saya gabung ke yang lain. Sikapnya juga jadi super jutek ke saya. Orang
‘care’ yang kedua hilang kontak, lalu tahu-tahu sms saya mengampanyekan
partainya supaya dipilih pas pemilu. Saya langsung ilfeel. Orang ‘care’ yang ketiga sih masih cukup ‘care’ sama saya.
Tapi ada perasaan seolah dikhianati, ketika tahu ada sistem yang nyuruh dia
supaya baik ke saya. Jadi…jadi…sup yang fresh
from the kompor kemarin bukan dari hati…tapi cuma karena saya targetnya?!
Ahh~
Semenjak saya ngeh sama tujuan-tujuan terselubung itu, saya
jadi serba hati-hati dan waspada kalau tiba-tiba ada orang yang mendekat ke
saya. Makanya, saya suka sinis nanggepin mereka. Terbukti sih, terakhir saya
di’care’in sama orang yang ternyata punya tujuan rekruit saya jadi agen
asuransi.
Sama saja, orang yang katanya mau jadi juru selamat sama
orang asuransi itu. Orang asuransi juga mau menyelamatkan saya, kok. Dia ngajak
saya cari duit, tapi yang paling penting target downline dia tercapai dulu.
Care yang nggak pakai tanda kutip itu saya dapat dari orang
yang justru nggak nunjukin perhatian berlebih, orang yang nggak secara creepy mendekati saya. Ada yang dulu
saya bilang ‘penyumbat’ justru nyatanya orang yang care betulan sama saya.
Moral of the story:
Harusnya saya jangan termakan kemasannya, karena sekalinya itu untuk
kepentingan dan bukan dari hati, semuanya jadi sama saja, mau itu agen
penyelamat atau agen asuransi. Baiknya pasti ada maunya. Maunya itu juga pasti
terkait target. Memang ada orang yang mau jadi target buruan orang?!
Kamis, 22 Januari 2015
When Aoba Meets Levi
Aoba: Oh my! Who is he? He's so kakkoiiii~. I think I wanna approach him.
Aoba: "E..Excuse me."
Levi: "What?"
Aoba: "I've been watching you since earlier. You're so cool."
Aoba: "M..May I touch your face?"
Levi: "EWWW DON'T TOUCH ME, YOU PEASANT!"
Levi: "You wanna die?!"
Levi: "Tch! Now he's died."
-The End-
Perhaps..this is Aoba's alternative bad route, when he chooses Levi. This route lasts only for 5 minutes, and has no good ending. Poor Aoba~
Langganan:
Komentar (Atom)