Senin, 20 Juli 2015

LGBT

Karena baru kemarin-kemarin ini pernikahan homoseksual dilegalkan di Amerika Serikat, orang-orang Indonesia ikut ramai berkoar soal LGBT. Saya sih ikutan share link-link yang membahagiakan tentang pasangan yang akhirnya bisa menyandang status menikah. Tapi ada juga yang ramai-ramai share link-link yang melaknat orang-orang berbahagia itu. Bukan ada juga, tapi BANYAK.

Mereka berkeinginan agar kaum itu (Amerika) binasa karena azab. Saya juga jadi ingat tentang petisi menentang festival Yulin dimana harusnya orang-orang fokus pada keselamatan anjing-anjingnya, bukan malah berharap bisa membinasakan orang-orang Cina yang ‘barbar’. Rasanya berharap suatu kaum binasa itu kejam.  Itu semacam intensi membunuh yang mengatasnamakan kebenaran.

Tentang LGBT, saya bingung sama sikap orang-orang di sekitar saya, di Indonesia pada umumnya. Di media sosial, orang-orang heboh mengumbar-umbar cercaan, hinaan, makian ke pendukung dan orang-orang LGBT. Untungnya (untung), saya ga pernah lihat perlakuan sefrontal itu ke orang-orang LGBT di depan mata saya (tapi saya ga menutup mata sama tindakan bully yang sering terjadi ya). Frontal karena seolah mereka-mereka itu rasanya mau memukuli (mungkin sampai membunuh) orang-orang LGBT.

Saya kenal seorang yang berkoar tentang laknatnya LGBT di media sosial, namanya A. Orang ini pun kenal dengan seorang transgender, namanya B. Karena si B ini punya prestasi dan talenta yang luar biasa, orang-orang di dekatnya ga pernah menunjukkan tanda-tanda menghina, begitu juga si A. Saya memang ga tau dalam hatinya si A, tapi dari luar terlihatnya si A respect terhadap B. Saya kaget saja lihat media sosialnya dimana ada link-link dengan opini kejam terhadap LGBT. Ga tahukah si A, dengan opininya itu dia juga menyerang si B?

Saya pun sering dengar dalam obrolan orang-orang, yang serupa begini:

“Eh itu si C? Si C ganteng/cantik ya?”
“Eh dia mah gay/lesbian.”
“Oh ya?!” *kaget (dan mgkn sedikit kecewa)*
lalu selesai.


Mungkin saat itu mereka menghakimi dalam hati, tapi mereka ga langsung benci sama si C dengan intensi mau membunuh, kan. Lalu kenapa? Kenapa intensi membunuh itu datang begitu besarnya di media sosial?!