Karena baru kemarin-kemarin ini pernikahan homoseksual
dilegalkan di Amerika Serikat, orang-orang Indonesia ikut ramai berkoar soal
LGBT. Saya sih ikutan share link-link
yang membahagiakan tentang pasangan yang akhirnya bisa menyandang status
menikah. Tapi ada juga yang ramai-ramai share
link-link yang melaknat orang-orang berbahagia itu. Bukan ada juga, tapi
BANYAK.
Mereka berkeinginan agar kaum itu (Amerika) binasa karena
azab. Saya juga jadi ingat tentang petisi menentang festival Yulin dimana
harusnya orang-orang fokus pada keselamatan anjing-anjingnya, bukan malah
berharap bisa membinasakan orang-orang Cina yang ‘barbar’. Rasanya berharap
suatu kaum binasa itu kejam. Itu semacam
intensi membunuh yang mengatasnamakan kebenaran.
Tentang LGBT, saya bingung sama sikap orang-orang di sekitar
saya, di Indonesia pada umumnya. Di media sosial, orang-orang heboh
mengumbar-umbar cercaan, hinaan, makian ke pendukung dan orang-orang LGBT.
Untungnya (untung), saya ga pernah lihat perlakuan sefrontal itu ke orang-orang
LGBT di depan mata saya (tapi saya ga menutup mata sama tindakan bully yang sering terjadi ya). Frontal
karena seolah mereka-mereka itu rasanya mau memukuli (mungkin sampai membunuh) orang-orang
LGBT.
Saya kenal seorang yang berkoar tentang laknatnya LGBT di
media sosial, namanya A. Orang ini pun kenal dengan seorang transgender,
namanya B. Karena si B ini punya prestasi dan talenta yang luar biasa,
orang-orang di dekatnya ga pernah menunjukkan tanda-tanda menghina, begitu juga
si A. Saya memang ga tau dalam hatinya si A, tapi dari luar terlihatnya si A respect terhadap B. Saya kaget saja
lihat media sosialnya dimana ada link-link dengan opini kejam terhadap LGBT. Ga
tahukah si A, dengan opininya itu dia juga menyerang si B?
Saya pun sering dengar dalam obrolan orang-orang, yang
serupa begini:
“Eh itu si C? Si C ganteng/cantik ya?”
“Eh dia mah gay/lesbian.”
“Oh ya?!” *kaget (dan mgkn sedikit kecewa)*
lalu selesai.
Mungkin saat itu mereka menghakimi dalam hati, tapi mereka
ga langsung benci sama si C dengan intensi mau membunuh, kan. Lalu kenapa?
Kenapa intensi membunuh itu datang begitu besarnya di media sosial?!